Kamis, 14 Juli 2011

Mencapai Keberkahan Hidup


Oleh: Sholih Hasyim*


"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-Araf (7) : 96).


TAHUN
2006, warga Indonesia dikagetkan dengan perceraian Tommy Soeharto (Hutomo Mandala Putra) dan RA Ardhia Pramesti Regita Cahyani (Tata).

Tata, didampingi pengacaranya, Juniver Girsang menggugat cerai Tommy di Pengadilan Agama Jakarta Selatan (PA Jaksel). Mengherankan, karena Tommy selain gagah, dia adalah anak muda yang kaya raya. Sementara itu, Tata, juga seorang wanita berkelas yang cantik, seolah tanpa celah.

Usai kasus Tommy, masyarakat juga dikejutkan dengan peceraian kakaknya, Bambang Trihatmodjo dengan Halimah Agustina. Bambang lebih memilih artis Mayang Sari. Padahal dibanding umumnya wanita, Halimah adalah wanita yang sangat cantik.

Sebelum kasus-kasus mengejutkan seperti itu, pengusaha dan artis Setiawan Djodi juga bercerai dengan bintang cantik bernama Sandy Harun. Kasus-kasus ini akhirnya selalu menyisahkan banyak pertanyaan di benak kita.

Mengapa kekayaan yang berlimpah tidak selalu mendatangkan kebahagiaan?. Mengapa rumah yang megah tidak bisa menghadirkan baiti jannati (rumahku adalah surgaku)?. Mengapa kedudukan yang tinggi tidak menjadi jaminan sebagai sumber kemuliaan dan kehormatan?. Mengapa pasangan hidup yang cantik atau tampan tidak menambah kebaikan dan penyebab terwujudnya keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah? Mengapa ilmu yang tinggi (sundhul langit, Jawa) tidak dapat mengangkat derajat pemiliknya, tetapi justru menghinakannya?. Mengapa anak-anak tidak bisa menjadi hiasan kehidupan (zinatul hayah) dan penyedap pandangan (qurrata a'yun) ?.

Mereka telah bekerja keras tanpa kenal lelah, memeras keringat siang dan malam,  untuk meraih semua itu, tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan harapan. Sebaliknya, kebahagiaan dan ketentraman yang selalu dicarinya, semakin jauh. Yang diperoleh justru kerumitan hidup dan malapetaka, kegersangan jiwa, kekalutan batin, dan kesempitan hati. Berawal dari kesempitan hati, berefek pada kesempitan kehidupan secara makro. Penyebab utamanya adalah semua yang dimilikinya tidak berkah.

Fenomena inilah yang menjadi kekhawatiran kita. Jangan-jangan, uang, rumah, istri/suami, harta, kedudukan, menjauhkan kita dari ketaatan kepada Allah Swt, sehingga tidak berkah. Jauh dari kebaikan-kebaikan. Justru, semuanya menjadi batu sandungan, duri, penghalang, dalam mendekatkan diri kepada-Nya.

Rasulullah Saw selalu memohon kepada Allah Swt untuk para sahabatnya, agar ketika mereka menikah semoga memperoleh berkah (barakallahu laka wa baaraka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khair). Kepada sahabatnya yang kaya, semoga kekayaannya berkah. Kepada sahabat yang memiliki kelebihan ilmu, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat (berkah). Nabi Saw selalu meminta perlindungan kepada-Nya dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu', nafsu yang tidak pernah kenyang, doa yang tidak terkabul.

Demikianlah, berkah itu maknanya adalah ziyadatul khair (tambahan kebaikan), sesuatu yang multiguna, bertambah kualitas dan kuantitasnya, bertambah kegunaannya, bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, kita tidak boleh hanya senang memiliki sesuatu. Padahal hakikatnya bukan hak milik, tetapi hak pakai. Tetapi, yang lebih penting adalah apakah yang kita miliki itu mengundang keberkahan. Kita tidak perlu bangga dengan apa saja yang kita miliki, jika ternyata tidak mendatangkan berkah. Jadi, bukan takut tidak memiliki sesuatu, tetapi yang lebih kita takuti adalah sesuatu yang sudah menjadi hak milik kita tidak berkah.

Betapa banyak kita temukan dalam realitas kehidupan, bahkan kita merasakan sendiri, orang menjadi sengsara dengan segala thethek bengek, perabot yang dimilikinya. Kita patut mencurigai, jangan-jangan sesuatu yang sah menjadi milik kita secara formal, dalam mengusahakannya terkontaminasi oleh prosedur yang tidak berkah. Karena, kita merasa ada yang kurang, ditengah keberlimpahan.

Jika kita membuka pandangan kita secara jernih, mencermati realitas sosial akhir-akhir ini, kita menyaksikan rumah tangga yang penuh percekcokan laksana bioskop.

Di sisi lain kita temukan rumah tangga yang sepi, tidak saling menyapa, bagaikan kuburan. Sekalipun dipenuhi dengan atribut kemewahan dan kemegahan. Jangan-jangan, kualitas keilmuan, iman, etika dalam keluarga terkecil dalam masyarakat itu jauh bahkan berseberangan dari nilai-nilai syariat Islam.

Misalnya, uang yang banyak malah membuat kerumitan hidup. Ilmu yang luas malah menghinakan pemiliknya. Kedudukan yang tinggi malah menjerumuskan ke dalam mafia kejahatan dan lain-lain. Ini pasti dalam mencari dan mengamalkannya bercampur dengan mekanisme yang tidak disenangi Allah Swt. Apalah artinya apa yang kita miliki menyengsarakan kita sendiri?

Alkisah, ada salah seorang ikhwan perintis sebuah pesantren di salah satu kota terbesar di Indonesia, ia menceritakan rahasia sukse lembaganya menyebarkan sayap dakwah ke seluruh pelosok tanah air.

"Sesungguhnya kami bisa eksis dan melebarkan sayapnya dakwah di 150 perwakilan di seluruh pelosok tanah air,  bukan karena ilmu, bukan pula karena ketrampilan menejemen, dan kepintaran personilnya, melainkan karena rahmat dan barakah dari Allah Swt. Insya Allah," bagitu akunya.

Jika direnungkan, statemen saudara kita itu, besar kemungkinan benar. Tanpa rahmat dan taufiq dari Allah, sesungguhnya keberhasilan dan kesuksesan kita bukan apa-apa. Setiap orang bisa sukses. Hanya saja semua orang yang sukses belum tentu mendapat keberkahan dari Allah SWT. Alangkah ruginya kekayaan dan kesuksesan kita tanpa dibarengi keberkahan.

Maka, untuk melipatgandakan karunia yang telah diberikan oleh-Nya, kita harus mewaspadai kehidupan individu, keluarga yang tidak berkah. Yang tidak mendatangkan kebahagiaan hidup di sini dan hari esok. Mulailah berhati-hati dengan uang, prestasi, ilmu yang kita peroleh. Usahakan supaya yang menjadi milik kita menjadi multiguna (berkah). Jangan seperti orang kafir, tidak selektif dalam berusaha dan tidak hati-hati dalam memasukkan sesuatu di dalam mulutnya.

 "Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang haus dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun."
(QS. An-Nur (24) : 39).

Seperti halnya gelas. Gelas hanya bisa nikmat digunakan untuk minum jika terlebih dahulu gelas itu kita bersihkan. Tidak dipenuhi dengan kotoran-kotoran yang menempel didalamnya. Jangan sekali-kali mencoba untuk tidak jujur, karena kebohongan itu pangkal segala pelanggaran di dunia ini.

Untuk apa? Jujur atau tidak jujur tetap Allah Swt yang Maha Memberi. Rezeki penjahat juga datang dari Allah Swt. Rezeki orang yang jujur juga datang dari Allah Swt. Bedanya, rezeki yang diberikan kepada penjahat menjadi haram, tidak berkah. Sedangkan yang diberikan kepada orang yang sungguh-sungguh jujur adalah rezeki yang halal, berkah.

Banyak pencuri, koruptor, penjahat, perampok yang akhirnya berujung gagal. Sekalipun mereka menggunakan segala cara untuk mencari rezeki, tetapi jika Allah Swt tetap tidak merestui dan tidak memberkahi hasil yang ia peroleh.

Kalau kita mengharapkan rezeki yang berkah, harus berjuang sekuat tenaga agar jangan sampai terlintas dalam hati nurani kita secuil apapun untuk berbuat tidak jujur dan licik, sebab akan menghilangkan keberkahannya. Setelah kita berbuat jujur, hati-hati pula jangan sampai ada hak-hak orang lain yang terampas atau belum ditunaikan, apalagi hak ummat Islam secara keseluruhan.

Kehidupan yang tidak berkah adalah kehidupan yang dilaknat oleh-Nya. Dijauhkan dari kebaikan.
Sehingga apa yang menjadi milik kita tidak menjadi pendukung untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Kepemilikan kita tidak bisa menjadi sahabat, tetapi menjadi musuh bagi. Makin banyak harta, tinggi ilmu, mapan kedudukan, secara pelan dan pasti membuat lobang kehancuran kita sendiri (istidraj).

 "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-KU, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit (serba sulit), dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta."
  [QS. Thaha (20): 124].




Support by. :












Rabu, 13 Juli 2011

Cari Tiket Pesawat Murah Yuk..!!!

 
Sahabat Netter yth.:
 
Mengapa kami sangat merekomendasikan BIROTIKET sebagai mitra bisnis tiket pesawat online...??? Inilah jawabannya :

1. Biaya Registrasi lebih murah, hanya Rp.150.000 (Bandingkan dengan yg lain, mulai
   dari Rp.200.000hingga jutaan rupiah )
2. Produk Tiket Pesawatnya lebih komplit.
3. Potensi Penghasilan yang luar biasa dan riil, baik dari bonus
   jaringan maupun bonus penjualan tiket.
4. Customer Service yang selalu Online untuk  memberikan layanan terbaik
    untuk semua member.
5. Pembayaran Bonus Tepat  Waktu.

Keuntungannya lainnya adalah :

1. Proses reservasi / booking bisa dilakukan darimana
    saja dan kapan saja di   seluruh wilayah Indonesia.
2. Data yang transparan langsung dari airline.
3. Proses reservasi langsung dilakukan dari sistem airline.
4. Anda bisa mencetak sendiri tiket anda dan penumpang anda bisa langsung  terbang.
5. Pembayaran melalui transfer bank sehingga bisa lebih cepat dan akurat.
6. Anda bisa menjual kembali tiket tersebut kepada orang lain dengan harga  pasar.

Segera daftar dan aktifasi keanggotaan anda untuk dapat menikmati semua itu.

INFO LENGKAPNYA, kunjungi : http://birotiket.com/?id=SHITSS

Senin, 11 Juli 2011

ANGGOTA BADAN PUN WAJIB BERIMAN


Oleh : DR. Nashir bin Abdullah al-Qifari


Ketika kita menyebut kata iman, maka yang terlintas dalam benak kita adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan i'tiqad, keyakinan dan perkara-perkara yang terkait dengan hati serta masalah ghaib. Memang benar pada dasarnya iman adalah tashdiq atau pembenaran terhadap segala yang diberitakan al-Qur'an dan as-Sunnah yang shahih termasuk di dalamnya perkara ghaibiyah, namun tentu definisi iman tidaklah berhenti di situ saja. Bahkan iman menuntut adanya amal perbuatan dari anggota badan.

Al-Imam asy-Syafi'i telah menyebut kan di antara rincian kewajiban anggota badan yang terbesar, sebagaimana disebutkan oleh al-Imam al-Baihaqi dalam kitabnya "Manaqib al-Imam asy Syafi'i," dan untuk lebih jelasnya silakan simak pembahasan berikut ini.

(Telah berkata al-imam asy-Syafi'i) rahimahullah: Sesungguhnya Allah subhanahu wata'ala yang Maha Tinggi telah mewajibkan iman kepada anggota badan manusia, dan Dia membagi kewajiban itu serta membeda kan kewajiban masing-masing dengan tepat. Maka tidak ada satu anggota badan yang normal, melainkan dia terkena kewajiban iman yang berbeda antara anggota badan yang satu dengan yang lainnya.

Di antara anggota badan itu adalah hati, yang dengannya seseorang berfikir dan memahami sesuatu. Dia adalah pemimpin bagi badan, anggota badan tidak akan melakukan sesuatu, kecuali atas ide dan perintahnya. Juga dua mata yang digunakan untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, dua tangan untuk memukul (bekerja), dua kaki untuk berjalan, kemaluan, lisan yang digunakan untuk berbicara serta kepala yang padanya terdapat wajah.

Allah subhanahu wata'alamewajibkan kepada hati sesuatu yang tidak diwajibkan kepada lisan. Dia mewajibkan kepada telinga sesuatu yang tidak diwajibkan kepada dua mata. Dia juga mewajibkan terhadap dua tangan berupa kewajiban yang tidak dibebankan kepada dua kaki. Dan begitu pula kemaluan diberi kewajiban yang berbeda dengan kewajiban wajah.

Kewajiban Hati


Adapun kewajiban yang ditetapkan Allah subhanahu wata'ala kepada hati yaitu; Menetapkan, mengetahui, meyakini, rela dan menerima bahwa; Allah tidak ada ilah yang haq selain Dia, tiada sekutu bagi-Nya, tidak mempunyai istri maupun anak. Dan bersaksi bahwa Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam adalah hamba dan utusan-Nya. Kemudian menetapkan apa saja yang datang dari Allah berupa diutusnya nabi atau berupa kitab. Maka demikian itulah kewajiban yang ditetapkan oleh Allah subhanahu wata'ala terhadap hati, dan itu menjadi tugas atau pekerjaannya yang harus dilakukan.

Allah subhanahu wata'ala berfirman,
"Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar."
(QS.an-Nahl:106)

Dalam ayat yang lain, artinya,
"Ingat, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram."
(QS.13:28)

Inilah di antara kewajiban iman yang Allah tetapkan terhadap hati, dan hal itu (keimanan hati) merupakan sesuatu yang terbesar dan terpenting.

Kewajiban Lisan


Allah subhanahu wata'alamenetapkan kewajiban terhadap lisan berupa mengatakan dan mengungkapkan apa yang diyakini dan terpancang di dalam hati, sebagaimana firman Allah subhanahu wata'ala, artinya,
"Katakanlah (hai orang-orang mu'min), "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami."
(QS.al-Baqarah:136)

Dan juga firman-Nya, artinya,
"Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia."
(QS al-Baqarah:83)

Demikanlah kewajiban yang Allah bebankan terhadap lisan yaitu mengata kan dan mengungkapkan apa yang terdapat di dalam hati. Maka segala apa saja yang diwajibkan oleh Allah terhadap lisan adalah merupakan bagian dari keimanan.

Kewajiban Telinga


Allah subhanahu wata'ala mewajibkan pendengaran agar dibersihkan dari apa-apa yang Dia haramkan , dan menjaganya dari segala yang dilarang untuk didengar. Allah berfirman tentang pendengaran, yang artinya,
"Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam al-Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka."
(QS.an-Nisa':140)

Allah subhanahu wata'ala mengecualikan bagi orang-orang yang lupa mendengarkan yang haram melalui firman-Nya,artinya,
"Dan jika kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)."
(QS.al-An'am :68)

Dia juga berfirman, artinya,
"Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang mempunyai akal."
(QS. az-Zumar:18)

Dalam ayat yang lain disebutkan,
"Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' di dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat."
(QS. al-Mu'minun :1-4)

Dalam ayat lain disebutkan,
"Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya."
(QS. al-Qashash:55)
"Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya."
(QS. al-Furqaan:72)

Inilah apa yang diwajibkan oleh Allah terhadap pendengaran, dan itu semua merupakan tugasnya serta termasuk dalam bagian keimanan.

Kewajiban Dua Mata


Terhadap dua mata Allah subhanahu wata'alamewajibkan agar tidak melihat kepada segala yang Dia haramkan melihatnya, serta menahan dari melihat segala sesuatu yang dilarang. Allah subhanahu wata'ala berfirman mengenai kewajiban mata,
"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".
(QS. an-Nur :30)

Maksud menjaga pandangan dalam ayat di atas yaitu hendaknya kita tidak melihat kepada kemaluan orang lain, serta hendaknya kita juga menjaga kemaluan sendiri agar tidak dilihat oleh orang lain.

Al-Imam asy-Syafi'i menegaskan, "Seluruh bentuk penjagaan terhadap kemaluan yang terdapat di dalam Kitabullah memiliki arti penjagaan dari zina, kecuali dalam ayat ini saja, yaitu menjaganya dari pandangan (melihat atau terlihat-red)."

Demikianlah kewajiban yang ditetapkan Allah terhadap dua mata, yaitu berupa menahan pandangan dari yang haram, dan itu merupakan tugasnya serta merupakan bagian dari keimanan.

Allah juga menyebutkan kewajiban hati, pendengaran dan penglihatan secara bersama di dalam satu ayat sekaligus. Dia berfirman, artinya,
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabannya."
(QS. al-Isra' :36)

Kewajiban Kemaluan


Allah subhanahu wata'ala mewajibkan kemaluan agar tidak disalurkan kepada yang diharam kan Allah atasnya. Dia berfirman tentang orang-orang mukmin, di antara ciri mereka adalah,
"Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,"
(QS. al-Mu'minun:5)

Dia juga berfirman, artinya,
"Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengar an, penglihatan dan kulitmu terhadap mu."
(QS.Fushshilat:22)

Yang dimaksudkan dengan kulit adalah kemaluan dan paha, dan itulah kewajiabn yang ditetapkan Allah subhanahu wata'ala atas kemaluan yakni menjaganya dari segala sesuatu yang tidak halal untuknya.

Kewajiban Dua Tangan


Kewajiaban yang ditetapkan oleh Allah subhanahu wata'ala terhadap dua tangan adalah agar tidak melakukan hal-hal yang diharamkan. Dan sebaliknya harus mengerjakan apa yang diperintahkan Allah seperti shadaqah, silaturrahim, jihad fi sabilillah, bersuci, shalat dan sebagainya. Allah subhanahu wata'alaberfirman, artinya,
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,"
(QS. al-Maidah:6). Dan hingga akhir ayat ini.

Allah subhanahu wata'ala juga berfirman, artinya,
"Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti."
(QS.Muhammad:4)

Hal itu disebabkan karena memukul (menyerang) musuh, berperang, silatur rahim dan shadaqah merupakan obat bagi penyakit (yang dilakukan) tangan.

Kewajiban Dua Kaki


Allah subhanahu wata'alamewajibkan dua kaki agar tidak berjalan menuju hal-hal yang diharamkan-Nya. Di antara kewajiban kaki adalah sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya, artinya,
"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung."
(QS. al-Isra':37)

Kewajiban Wajah


Allah subhanahu wata'ala menetapkan kewajiban terhadap wajah untuk bersujud kepada-Nya baik di kala siang maupun malam, terutama dalam waktu-waktu shalat yang sudah ditetapkan. Firman Allah subhanahu wata'ala, artinya,
"Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan."
(QS. al-Hajj :77)

Dalam firman yang lain, artinya,
"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorang pun di dalamnya di samping (menyembah) Allah."
(QS. 72:18)

Yang dimaksudkan dengan masajid adalah tempat sujud baik bermakna masjid atau anggota badan yang digunakan untuk bersujud berupa dahi/kening dan selainnya.

Demikianlah di antara kewajiban-kewajiban yang ditetapkan oleh Allahsubhanahu wata'ala kepada anggota badan manusia, sebagaimana yang disampaikan oleh al-Imam asy-Syafi'i. Mudah-mudahan Allah subhanahu wata'ala memasukkan kita semua ke dalam golongan orang-orang yang beriman dengan benar serta mereali sasikan keimanan itu dengan segenap anggota badan kita, amin ya Rabbal 'alamin.

Diterjemah dengan bebas dari kitab, "Ushuluddin 'indal aimmah al-Arba'ah Wahidah," DR. Nashir bin Abdullah al-Qifari, hal 92-94. (Khalif)



Support by. :