Kamis, 01 Maret 2012

Susi Air akan buka belasan jalur penerbangan baru

Susi Air akan buka belasan jalur penerbangan baru

JAKARTA. Perusahaan penerbangan perintis, PT Asi Pudjiastuti alias Susi Air, berencana untuk menambah belasan jalur penerbangan baru di Jawa, Kalimantan dan Indonesia Timur.

Diantara jalur penerbangan yang akan dibuka itu adalah, Cilacap-Yogyakarta, Cilacap-Semarang, Jakarta-Cilacap dan beberapa rute lain yang melintasi Jayapura.

Selain itu juga akan ada rute penerbangan yang Samarinda, Kalimantan Timur dan Ketapang, Kalimantan Barat. Ekspansi Susi Air ini dilakukan setelah perusahaan menang tender rute penerbangan bersubsidi di dua lokasi satuan kerja (satker) penerbangan Samarinda dan Ketapang.

Susi Pudjiastuti, chief executive officer Susi Air mengungkapkan, penambahan rute dilakukan untuk menjangkau pelanggan yang ingin bepergian ke daerah terpencil yang selama ini masih sulit dijangkau akses penerbangan..

"Kami belum bisa sampaikan kapan mulai beroperasi jalur baru ini," Susi saat dihubungi KONTAN hari ini (30/1). Selain itu, Susi juga enggan menyebutkan pendapatan bisnisnya tahun lalu maupun target tahun depan.

Selain berbisnis, Susi mengklaim pembukaan jalur penerbangan baru itu untuk pengabdiannya kepada daerah. "Jujur saja, untuk rute penerbangan Jawa saya hanya lakukan karena dedikasi, bukan mencari untung," tegasnya.

Meskipun Susi mengaku berat menjalankan bisnis penerbangan perintis, namun di yakin industri penerbangan di Indonesia akan tumbuh.

Tambah Armada

Agar bisa membuka rute baru, Susi Air berniat menambah 15 pesawat jenis Cessna Grand Caravan tahun ini. Selain itu ia berencana untuk membeli helikopter. Soal investasi penambahan armada ini, Susi memperkirakan menelan investasi US$100 juta yang akan diperoleh dari pinjaman perbankan.

Sampai tiga tahun depan, Susi berniat membeli 33 pesawat dengan hitungan nilai investasi sebesar US$ 300 juta. Selain mengandalkan pinjaman perbankan, Susi juga membuka peluang bagi private investor untuk melakukan pembelian tersebut.

Dia pun menegaskan, lebih membeli pesawat baru dengan pinjaman perbankan atau private investor, ketimbang menyewa pesawat untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya. "Kalau kami sewa, maka hitungannya rugi. Karena dan biaya leasing, jauh lebih besar dibanding beli pesawat baru," tegas Susi.

(kontan.co.id)

Lion Air kuasai 41,59% pasar penumpang domestik


Lion Air kuasai 41,59% pasar penumpang domestik

JAKARTA. Maskapai penerbangan Lion Air tahun 2011 lalu tercatat sebagai maskapai yang paling banyak mengangkut penumpang domestik.

Hal ini disampaikan oleh Bambang S. Ervan, juru bicara Kementerian Perhubungan di Jakarta, Kamis (1/3). Bambang bilang, PT Lion Mentari Airlines (Lion Air) mengangkut 24,97 juta penumpang domestik tahun 2011, sekitar 41,59% dari total penumpang domestik nasional.

Maskapai berikutnya yang menguasai pasar adalah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dengan jumlah penumpang yang diterbangkan 13,07 juta penumpang. "Garuda memiliki pangsa pasar domestik sebesar 22,82%," ujar Bambang, Kamis (1/3).

Sementara itu, PT Sriwijaya Air menempati posisi ketiga dengan jumlah penumpang 7,38 juta penumpang. Diikuti Batavia yang mampu menerbangkan 6,75 juta penumpang. "Peningkatan jumlah penumpang juga disebabkan penambahan armada yang setiap tahun dilakukan maskapai penerbangan. Selain itu juga harga tiket lebih terjangkau bagi masyarakat," terang Bambang.

Sementara itu, Tengku Burhanuddin, Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Penerbangan Nasional (INACA) yakin, kinerja bisnis penerbangan tahun akan lebih baik dari tahun lalu. "Target penumpang 15% sampai 20% tahun ini cukup realistis," terangnya.

(kontan.co.id)

Obesitas Justru Menguntungkan di Usia 85 Tahun



Obesitas kini sudah menjadi permasalahan global. Berbagai riset menunjukkan adanya hubungan antara obesitas dan peningkatan risiko penyakit seperti jantung, hipertensi, diabetes dan stroke. Bahkan sebuah studi mengklaim obesitas sebagai salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia.


Meskipun obesitas dapat meningkatkan risiko kematian dini, yakni memangkas harapan hidup antara 6-7 tahun dari umur seseorang, tetapi para ilmuwan dari Tel Aviv University di Israel justru berkata sebaliknya. Mereka mengatakan, risiko kematian pada penderita obesitas  justru menjadi lebih kecil bila mereka melewati usia 85 tahun.

Peneliti beralasan bahwa kelebihan lemak justru memberikan efek perlindungan dan mengurangi risiko kematian bila dibandingkan dengan mereka yang memiliki berat badan normal. Penelitian diterbitkan dalam Journal of Aging Research.

Terkait temuan tersebut, Prof Jiska Cohen-Mansfield dan Rotem Perach dari Herczeg Institute on Aging dan Sackler Faculty of Medicine menjelaskan bahwa ketika seseorang mencapai usia yang sangat tua, beberapa faktor yang mempengaruhi mortalitas pada orang yang lebih muda mungkin tidak lagi signifikan pada orang lebih tua.

Menurut peneliti, orang yang lebih berat memiliki risiko lebih rendah terkena osteoporosis, yang dapat menurunkan insiden jatuh dan cedera. Orang dengan obesitas juga menyimpan energi lebih banyak pada tubuhnya saat sedang mengalami trauma atau stres, atau memperpanjang masa penurunan berat badan yang disebabkan oleh penurunan nafsu makan, di mana umumnya dialami oleh orang-orang yang hampir mati.

Temuan ini secara konsisten menunjukkan bahwa orang yang kekurangan berat badan di usia tua memiliki risiko kematian lebih tinggi. Tapi sampai sekarang, dampak perlindungan dari obesitas pada kematian untuk kelompok usia yang sama masih terus ditelusuri.

Dalam risetnya, peneliti mengumpulkan data dari Cross Sectional dan Longitudinal Aging Study (Calas), yang melibatkan 1.349 orang berusia 75-94 tahun. Peserta diminta menjawab pertanyaan tentang tinggi dan berat badan, usia, gender, keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi, dan riwayat merokok. Dua dekade setelah data pertama kali dikumpulkan, para peneliti menyelesaikan analisis mortalitas pada sampel asli. Selama 20 tahun, 95 persen dari peserta diketahui meninggal, dan hanya 59 peserta yang masih bertahan hidup.

Prof Cohen-Mansfield mencatat bahwa obesitas terus menjadi prediktor kematian bagi mereka yang berusia 75-84 tahun. Tetapi melewati usia 85, peserta yang berada di kategori obesitas justru berada pada risiko kematian lebih rendah dari rekan-rekan mereka yang mengalami kekurangan berat badan mereka.

Peneliti mengatakan, selama ini kebanyakan orang gemuk (obesitas) meninggal lebih dini dikarenakan penyakit terkait obesitas. Tetapi, mereka (orang dengan obesitas) yang dapat bertahan hidup sampai usia lanjut, justru bisa menjadi lebih kuat.

Meskipun temuan ini mengejutkan, Prof Cohen-Mansfield menerangkan bahwa obesitas hanya memiliki efek perlindungan ketika seseorang berada pada risiko kematian, tetapi belum tentu kualitas hidupnya baik.

"Meskipun orang gemuk di atas usia 85 tahun memiliki risiko kematian lebih rendah, tapi mereka lebih berisiko menderita penyakit lain terkait obesitas," katanya.

"Ada faktor lain yang perlu dipertimbangkan, seperti nyeri, penyakit ganda, dan mobilitas," tutupnya.


Sumber : EurekAlert