Sabtu, 26 Mei 2012

Ibu Hamil Bisa Anemia Akibat Kurang Merawat Gigi



Akibat kurangnya merawat kesehatan gigi dan gusi, sejumlah ibu hamil mengalami anemia. Padahal kondisi ini bisa berdampak buruk bagi pertumbuhan janin yang dikandungnya. Demikian diungkapkan drg Saifuddin Ishak saat memaparkan pentingnya perawatan gigi dan gusi dihadapan sejumlah dokter gigi anggota Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Aceh, yang melakukan musyawarah wilayah di Banda Aceh, Sabtu (26/5/2012).

"Untuk itu, penanganan gigi yang baik dan profesional yang dilakukan oleh para dokter gigi akan membantu menyelamatkan bayi-bayi yang akan dilahirkan," sebutnya.

Di Aceh, sebut Saifuddin hampir 62 persen ibu hamil mengalami anemia, akibat kurangnya perawatan gigi dan mulut.

"Bisa dibayangkan jika seorang ibu hamil saat menyikat gigi selalu mengeluarkan darah, dan itu terus terjadi selama sembilan bulan, akibatnya si ibu mengalami anemi dan ini berdampak bagi janin yang dikandungnya," jelas Ketua Pengurus Wilayah PDGI Wilayah Aceh tersebut.

Sebagian besar, sebutnya, kondisi ini juga tercipta akibat minimnya fasilitas unit perawatan gigi dan mulut yang ada di sejumlah puskesmas di Aceh. "Masih banyak puskesmas yang tidak memiliki unit gigi dan mulut, sehingga perawatan kesehatan bagi masyarakat tidak maksimal," jelasnya.

Selain itu, jika ada unit perawatan gigi sering pula tidak dilengkapi dengan listrik dan air yang memadai, sehingga dokter tidak bisa melakukan pekerjaannya dengan maksimal. Di Aceh saat ini hanya terdapat 214 orang dokter gigi. Kata Saifuddin, jumlah ini masih jauh dari cukup. Idealnya rasio seorang dokter gigi merawat 7.000 pasien, namun saat ini di Aceh seorang dokter gigi merawat lebih dari 20 ribu pasien.

Sementara itu PJ Gubernur Aceh Tarmizi Karim berharap para dokter gigi bisa bekerja maksimal dengan mengandalkan tiga unsur utama, yakni pengetahuan, keahlian dan integritas.

"Kami memahami minimnya fasilitas tidak membuat kerja dokter gigi maksimal, namun dengan tiga unsur tadi, yakni pengetahuan, keahlian dan integritas, kami sangat berharap para dokter gigi bisa membantu membentuk generasi bangsa yang sehat dan cerdas," jelasnya.

Tarmizi mengatakan, pemerintah daerah akan terus berupaya melengkapi fasilitas kesehatan disetiap daerh di aceh terutama fasilitas bagi layanan kesehatan gigi dan mulut.

(kompas.com)

Gigi Palsu Bermagnet Mulai Digemari


Penggunaan teknologi magnet pada gigi palsu kini menjadi salah satu pilihan dalam pengobatan dan estetika gigi yang mulai digemari di Indonesia.

"Penggunaan magnet pada gigi palsu terbukti aman dan mulai banyak digunakan di kota-kota besar di Indonesia," kata Ketua Ikatan Kedokteran Gigi Estetik Indonesia (IKGEI), drg. Rudi Wigianto, pada seminar "Riau Dental Scientific Expo" di Pekanbaru, Riau, Sabtu (26/5/2012).

Penggunaan gigi palsu bermagnet sebenarnya sudah mulai berkembang di Eropa pada tahun 1950-an. Namun, penggunaannya di Indonesia baru mulai diperkenalkan sejak tahun 2011. Gigi palsu bermagnet, lanjutnya, bisa menambah perekatan gigi palsu ke gigi asli yang tersisa dibandingkan teknologi sebelumnya. Penggunaannya bisa dipasang pada gusi dengan "implan" pasak seperti mahkota.

"Dengan begitu, pengguna gigi palsu bermagnet tak perlu lagi menggunakan kawat penyangga dan tak perlu takut gigi palsu tak sengaja tertelan saat tidur," katanya.

Fransiska Sisilia dari Asia Afrika Dental menambahkan penggunaan gigi palsu bermagnet juga aman dan tak mengganggu fungsi alat pengguna alat pacu jantung yang digunakan.

"Gigi palsu bermagnet aman, bahkan radiasi telepon seluler lebih besar dari magnet gigi palsu," katanya.

Magnet gigi palsu juga tidak kasat mata karena tebalnya hanya sekitar 1,1 milimeter (mm) dan diameternya sekitar 4 mm. "Pengguna gigi palsu bermagnet makin banyak. Teknologi ini jadi pilihan terutama di kota-kota besar, seperti Bandung," katanya.


Sumber : Antara

Perawatan Ngorok Cegah Darah Tinggi


Ilustrasi

Ngorok atau mendengkur telah lama dianggap sebagai bagian keseharian yang wajar. Bahkan sudah menjadi pandangan umum bahwa mendengkur merupakan tidur yang nyenyak. Tetapi kita juga sering menemui teman, kerabat atau pasangan yang mendengkur dengan menyeramkan. Selain suara ngorok, suara malam hari terkadang diselingi episode sunyi yang diikuti dengan tampilan sesak dan diakhiri dengan tersedak atau terbatuk-batuk.


Di pagi hari, individu-individu ini bangun tak segar dan mudah mengantuk di siang hari. Padahal mereka sudah cukup tidur setiap malamnya. Mereka seolah lamban, kurang cekatan, emosional, kurang konsentrasi, mudah tertidur dan sulit mengambil keputusan. Tapi apakah mereka pemalas? Bukan! Mereka mengalami gejala yang bernama hipersomnia, yang artinya kantuk berlebihan walau sudah cukup tidur.

Ngorok dan hipersomnia merupakan dua gejala utama dari sleep apnea atau henti nafas saat tidur. Penderita sleep apnea, tanpa ia sadari, terbangun-bangun dari tidur akibat sesak. Saat tidur, saluran nafasnya menyempit hingga tak ada udara yang dapat lewat, walau gerakan nafas terus bergerak.

Risiko Sleep Apnea

Sepanjang sejarah kedokteran tidur yang baru berkembang sejak tahun 50-an, banyak sudah penelitian yang menyinggung tentang bahaya ngorok. Mulai dari kualitas hidup, keselamatan dan kesehatan.

Kantuk berlebih yang dialami jelas menurunkan kualitas hidup seseorang. Performa menurun, kreativitas tersumbat, daya ingat menurun dan hubungan sosial yang buruk. Bahkan sebuah penelitian menyebutkan bahwa dengkuran merupakan penyebab perceraian nomor tiga di Amerika setelah perselingkuhan dan masalah keuangan. Tak kalah penting, sleep apnea juga berperan menurunkan libido dan mengakibatkan impotensi.

Resiko bagi keselamatan bagi mereka yang berkendara, atau mengoperasikan alat berat juga tak kecil. Kualitas tidur buruk akibta sleep apnea menurunkan kewaspadaan dan kemampuan refelks penderitanya. Ini sebabnya pendengkur di Eropa tak diperkenankan untuk berkendara sementara hingga kondisinya disembuhkan.

Henti nafas saat tidur telah lama diketahui menyebabkan hipertensi, diabetes, berbagai gangguan jantung, stroke hingga kematian. Sayangnya, bahaya ngorok bagi kesehatan masih diluar deteksi radar kebanyakan tenaga kesehatan di Indonesia. Tak heran jika angka penderita penyakit-penyakit tadi terus meningkat di tanah air.

Hipertensi

Hubungan hipertensi dan mendengkur dapat dilihat sejak penemuan sleep apnea. Walau sudah banyak catatan medis tentang gejala-gejala yang mirip sleep apnea, namun karena tak ada tradisi kedokteran yang mengamati kondisi pasien saat tidur, kondisi ini diabaikan begitu saja. Hingga di awal berjalannya penelitian tidur, diamati banyaknya penderita hipertensi yang mengalami kantuk berlebihan. Khawatir akan gangguan tidur bernama narkolepsi, pasien-pasien ini direkam gelombang otaknya selama tidur. Selama pengamatan didapati bahwa mereka mendengkur, dan akhirnya diputuskan untuk juga merekam fungsi-fungsi nafas dan jantung selama tidur.

Terbuktilah bahwa para pendengkur mengalami gangguan nafas selama tidur. Sejak saat itu, pemeriksaan tidur dilengkapi dengan perekaman nafas dan jantung. Laboratorium tidur dengan alat bernama polisomnografi (PSG) bukan lagi menjadi alat penelitian, tetapi juga menjadi alat diagnosa rutin seperti pemeriksaan darah dan foto X ray.

Penelitian-penelitian selanjutnya lebih menguatkan hubungan antara kedua penyakit ini. Mulai dari mekanisme terjadinya, resiko-resiko yang berperan hingga efek perawatan sleep apnea terhadap tekanan darah tinggi.

Mekanisme biologis yang diduga berperan adalah meningkatnya aktivitas sistem saraf simpatis saat tidur akibat penurunan kadar oksigen dan episode bangun singkat. Secara berantai mengakibatkan rusaknya dinding pembuluh darah serta meningkatnya tahanan pada aliran darah.

Perawatan

Dalam the Journal of American Medical Association baru-baru ini dibuktikan juga bagaimana perawatan sleep apnea dapat menjaga tekanan darah tetap normal. Didapati bahwa pendengkur yang telah menggunakan CPAP sebagai perawatan, berkurang resikonya untuk menderita hipertensi.

CPAP adalah kependekan dari continuous positive airway pressure. Sebuah alat yang dihubungkan ke hidung lewat masker. Fungsi dasarnya adalah meniupkan tekanan positif untuk mengganjal saluran nafas agar tetap membuka selama tidur.

Dalam penelitian tersebut diikuti sekitar 1900 orang tanpa hipertensi yang dirujuk ke klinik tidur sejak tahun 1994 sampai 2000. Pasien-pasien tersebut diikuti setiap tahunnya hingga tahun 2011. Pasien yang terdiagnosa dengan sleep apnea lalu diberi perawatan dengan CPAP.

Hasilnya, para peneliti mendapati bahwa penderita sleep apnea yang tidak menjalankan perawatan mempunyai resiko dua kali lipat untuk menderita hipertensi dibanding mereka yang tidak menderita sleep apnea. Sementara pasien-pasien yang meninggalkan perawatan CPAP mempunyai risiko 80% lebih besar! Padahal pasien-pasien yang menggunakan CPAP menurun resikonya untuk menderita hipertensi hingga 29%.

Kita sudah tahu pasti bahwa mendengkur dan sleep apnea merupakan salah satu penyebab utama hipertensi. Kita juga telah mengetahui bahwa perawatan sleep apnea dapat menurunkan tekanan darah. Tetapi penelitian ini membuktikan bahwa perawatan sleep apnea dapat mencegah terjadinya hipertensi.

(kompas.com)