Selasa, 04 Februari 2014

Ini Ciri Pasangan yang Mampu Memberi Kebahagiaan

Jadi bekal untuk cinta dan hasrat seksual yang berkelanjutan.


Sikap ramah wajib jadi pertimbangan dalam memilih pasangan. (iStock)

Setiap pasangan mengharapkan kebahagiaan saat menapaki jenjang pernikahan. Untuk ini, berbagai kriteria dipatok. Para lajang mencatat bahwa lawan jenis dengan penampilan dan finansial bagus adalah pendamping hidup ideal. Tapi benarkah semua itu membahagiakan hidup?

Ty Tashiro, profesor psikologi di University of Maryland mengatakan, salah satu pertimbangan untuk mencari pasangan adalah sikap ramah yang dimilikinya. Ciri kepribadian itu bisa dijadikan bekal untuk cinta dan hasrat seksual yang berkelanjutan.

Lebih luasnya, individu yang dimaksud memiliki sikap sopan, fleksibel, percaya, baik hati, kooperatif, pemaaf, berhati lembut dan toleran. Sebaliknya, ada neurotisisme sebagai sifat terburuk perusak hubungan. Individu dengan kepribadian ini rentan terhadap kecemasan, depresi, malu, ketidakstabilan emosional dan ketidakamanan.

Selain itu, keterbukaan tidak selalu menjadi kehangatan dalam hubungan. Bila dikombinasikan dengan rendahnya tingkat kesadaran, keterbukaan justru jadi bencana.

"Jika menjalin hubungan dengan kekasih yang sering membuat Anda sedih, maka sifat-sifatnya yang kerap membuat Anda sedih akan terus ada selama beberapa dekade mendatang, " kata Ty Tashiro.

Untuk benar-benar jatuh cinta, individu harus mengendalikan keinginan dan nafsu. Wanita seringkali memburu pria yang tampan, tinggi dan kaya. Tapi hanya satu persen yang mungkin memenuhi kriteria Anda. 

Tashiro menegaskan, penampilan yang baik bukan indikator kepuasan seksual, juga tidak berkorelasi dengan pernikahan bahagia. Tidak ada hubungan antara daya tarik fisik dan kepuasan hubungan. Selain itu, uang tidak menjaga hubungan tetap harmonis.

"Ada saatnya kemakmuran terkait dengan tekanan dan isolasi sosial. Sangat penting untuk fokus menemukan pasangan yang bersedia mendampingi ketika semua kebutuhan terpenuhi, maupun saat mengalami kesulitan ekonomi," kata Tashiro.

Sumber: Daily Mail.

Senin, 03 Februari 2014

Warga Kampung Pulo Tolak Relokasi Tawaran Jokowi

Warga Kampung Pulo Tolak Relokasi Tawaran JokowiWarga Kampung Pulo yang mengungsi di emperan Jalan Jatinegara Barat membutuhkan bantuan tikar dan juga selimut pengganti. Kondisi alas dan perlengkapan tidur yang mereka miliki saat ini sudah tidak lagi memadai. Selasa (21/1/2014).

Warga Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, menolak rencana Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo merelokasi warga bantaran Sungai Ciliwung di wilayah itu. Dari 3.500 kepala keluarga di wilayah tersebut, hanya 150 kepala keluarga yang bersedia pindah ke rusun yang telah ada.

"Itu juga mereka yang bersedia tidak mau pindah jauh-jauh dari tempat tinggal yang lama," kata Lurah Kampung Melayu Bambang Pangestu saat dihubungi wartawan, Senin (3/2/2014).

Bambang mengatakan, pemerintah Provinsi Jakarta menyediakan sejumlah rusun untuk memindahkan warga Kampung Pulo, antara lain Rusun Pinus Elok, Cipinang Besar Selatan, Komarudin Cakung, Jatinegara Kaum, dan Rusun Pulogebang. Semuanya di Jakarta Timur. Namun, warga Kampung Pulo memilih menunggu rampungnya Rusun Jatinegara Barat yang dibangun dekat rumah lama mereka. Rusun Jatinegara Barat ditargetkan rampung pada Oktober 2014.

"Seharusnya bulan ini sudah mau direlokasi, tapi mereka enggak mau jauh-jauh. Kita beri formulir kesiapan pindah, enggak mau. Mereka memilih menunggu bulan Oktober untuk pindah," kata Bambang.

Bambang pun merasa kesulitan karena banyak warga yang mempertanyakan sistem ganti rugi rumah mereka. Bambang telah menjelaskan bahwa warga yang tak memiliki sertifikat lahan tidak akan menerima ganti rugi, tetapi mendapatkan hunian rusun. Adapun warga yang memiliki sertifikat diberi ganti sesuai harga pasar.

Kepala Dinas Perumahan dan Bangunan Pemerintah DKI Jakarta Yonathan Pasodung mengatakan, sejumlah rusun di Jakarta Timur itu sedianya disiapkan untuk warga Kampung Pulo. Namun, karena sampai sekarang belum ada data warga yang masuk ke dinasnya, ia terpaksa mengalihkan rusun kepada warga lain.

Menurut Yonathan, warga yang akan mengisi rusun tersebut saat ini adalah warga bantaran Sungai Sunter, Kemayoran, Jakarta Pusat; warga tepi Waduk Ria Rio, Pulogadung, Jakarta Timur; dan warga di tepi Waduk Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara.

Sumber: kompas.com

Minggu, 02 Februari 2014

Kisah Miris, Pengungsi Banjir Tolak Nasi Bungkus dan Mi Instan


Ilustrasi pengungsi banjir

Di tengah membanjirnya bantuan bagi korban banjir, terselip kisah-kisah miris, bahkan yang membuat marah. Ada pengungsi banjir menolak bantuan karena tidak sesuai selera.

”Saya dan tetangga tahun lalu sengaja mengumpulkan uang untuk membeli bahan-bahan makanan bagi korban banjir di sekitar tempat tinggal kami. Namun, mereka menolak dan meminta makanan jadi saja biar praktis,” kata Sartono, warga Cipinang, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.

Warga di lingkungan tempat tinggal Sartono pun kemudian membuat dapur umum dadakan dan memasak semua bahan kemudian diwadahi dalam kotak-kotak yang bersih dan rapi. ”Namun, kami terkejut. Ketika kami datang bawa nasi kotak, korban banjir tanya lauknya apa. Mereka terlihat tidak berkenan dengan lauk-pauk dan nasi dari kami. Sumbangan kami tidak disentuh,” tuturnya.

Sartono dan para tetangganya hanya bisa terdiam walau marah luar biasa. Meski sederhana, Sartono menjamin nasi serta lauk dari mereka terjamin rasa dan kualitas gizinya.

Ratih, warga Sentul, Bogor, yang kebetulan berada di sekitar Cawang, Jakarta Timur, akhir pekan lalu terbengong-bengong menyaksikan beberapa korban banjir membuang nasi dan lauk-pauk yang diambilnya dari dapur umum di posko dinas sosial di kawasan itu.

”Dia ambil terus dimakan sedikit, lalu dibuang juga di dekat posko itu semuanya. Gila, sudah tidak dimakan, buang sembarangan. Makanan yang dibuang menumpuk, lho. Berarti banyak yang perilakunya seperti itu. Nanti yang membersihkan relawan di situ juga. Parah banget,” ungkapnya.

Pasokan baju pantas pakai untuk korban banjir menemui nasib sama. Terkadang, karena dianggap jelek, pakaian bekas itu pun hanya teronggok menggunung selama berhari-hari tanpa ada yang menyentuh.

Seorang warga di Bukit Duri, awal pekan lalu, mengatakan, setelah berhari-hari rumahnya kebanjiran dan hidup di pengungsian, ia tentu bosan dengan mi instan, telur, nasi bungkus, dan pakaian yang buruk.

Sumber: kompas.com