Rabu, 01 Juni 2011

Tafsir Ayat KURSI

 

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ, لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ, لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ, مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِه,
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ, وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ, وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ
وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا, وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Artinya :

"Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia Yang hidup kekal serta terus menerus mengurus (makhluk).", "Dia Tidak mengantuk dan tidak tidur.", "Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.", "Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.", "Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.", "Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah kecuali dengan apa yang dikehendaki-Nya.", "Kursi Allah meliputi langit dan bumi.", "Dan Allah tidak terberati  pemeliharaan keduanya.", "Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar."

(QS. Al-Baqoroh : 255)




Tafsir Ayat Kursi

(Penulis, Ustadz Anas Burhanuddin, MA., saat ini sedang menempuh program S3 Universitas Islam Madinah fak. Syari'ah)



Keutamaan Ayat Kursi


Semua surat dalam al-Qur'an adalah surat yang agung dan mulia.  Demikian juga seluruh ayat yang dikandungnya. Namun, Allah ta'ala dengan kehendak dan kebijaksanaanNya menjadikan sebagian surat dan ayat lebih  agung dari sebagian yang lain. Surat yang paling agung adalah surat  al-Fatihah, sedangkan ayat yang paling agung adalah ayat kursi, yaitu di surat Al-Baqarah, ayat 255. Yang akan kita pelajari bersama dalam  kesempatan ini adalah ayat kursi.

Ubay bin Ka'b radhiallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam bersabda:

"Wahai Abul Mundzir (gelar kunyah Ubay), tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?"

Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu."

Beliau berkata, "Wahai Abul Mundzir, Tahukah engkau ayat mana di kitab Allah yang paling agung?"

Aku pun menjawab,

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوم
ُ

Maka beliau memukul dadaku dan berkata, "Demi Allah, selamat atas ilmu (yang diberikan Allah kepadamu) wahai Abul Mundzir." (HR. Muslim no. 810)

Dalam kisah Abu Hurairah radhiallahu 'anhu dengan setan yang mencuri harta zakat, disebutkan bahwa setan tersebut berkata,

"Biarkan aku mengajarimu beberapa kalimat yang Allah memberimu  manfaat dengannya. Jika engkau berangkat tidur, bacalah ayat kursi.  Dengan demikian, akan selalu ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan  tidak akan mendekatimu sampai pagi."

Ketika Abu Hurairah menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam, beliau berkata,

"Sungguh ia telah jujur, padahal ia banyak berdusta." (HR. al-Bukhari no. 2187)

Dalam kisah lain yang mirip dengan kisah di atas dan diriwayatkan Ubay bin Ka'b radhiallahu 'anhu, disebutkan bahwa si jin mengatakan:

مَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُصْبِحَ ، وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُصْبِحُ أُجِيرَ مِنَّا حَتَّى يُمْسِيَ


"Barangsiapa membacanya ketika sore, ia akan dilindungi dari kami sampai pagi. Barangsiapa membacanya ketika pagi, ia akan dilindungi  sampai sore." (HR. ath-Thabrani no. 541, dan al-Albani mengatakan bahwa sanadnya bagus)

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu 'alahi wa sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ، إِلا الْمَوْتُ


"Barangsiapa membaca ayat kursi setelah setiap shalat wajib, tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga selain kematian." (HR. ath-Thabrani no. 7532, dihukumi shahih oleh al-Albani)

Disunnahkan membaca ayat ini setiap (1) selesai shalat wajib, (2) pada dzikir pagi dan sore, (3) juga sebelum tidur.

Tafsir Ayat Kursi

اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ


"Allah, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia Yang hidup kekal serta terus menerus mengurus (makhluk)."

Allah adalah nama yang paling agung milik Allah ta'ala. Allah  mengawali ayat ini dengan menegaskan kalimat tauhid yang merupakan  intisari ajaran Islam dan seluruh syariat sebelumnya. Maknanya, tidak  ada sesembahan yang benar untuk disembah selain Allah. Konsekuensinya  tidak boleh memberikan ibadah apapun kepada selain Allah.

Al-Hayyu dan al-Qayyum adalah dua di antara al-Asma' al-Husna yang Allah miliki. Al-Hayyu artinya Yang hidup dengan sendirinya dan selamanya. Al-Qayyum berarti bahwa semua membutuhkan-Nya dan semua tidak bisa berdiri tanpa  Dia. Oleh karena itu, Syaikh Abdurrahman as-Sa'di mengatakan bahwa kedua nama ini menunjukkan seluruh al-Asma' al-Husna yang lain.

Sebagian ulama berpendapat bahwa al-Hayyul Qayyum adalah  nama yang paling agung. Pendapat ini dan yang sebelumnya adalah yang  terkuat dalam masalah apakah nama Allah yang paling agung, dan semua  nama ini ada di ayat kursi.

لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ


"Dia Tidak mengantuk dan tidak tidur."

Maha Suci Allah dari segala kekurangan. Dia selalu menyaksikan dan  mengawasi segala sesuatu. Tidak ada yang tersembunyi darinya, dan Dia  tidak lalai terhadap hamba-hamba-Nya.

Allah mendahulukan penyebutan kantuk, karena biasanya kantuk terjadi sebelum tidur.

Barangkali ada yang mengatakan, "Menafikan kantuk saja sudah cukup  sehingga tidak perlu menyebut tidak tidur; karena jika mengantuk saja  tidak, apalagi tidur."

Akan tetapi, Allah menyebut keduanya, karena bisa jadi (1) orang  tidur tanpa mengantuk terlebih dahulu, dan (2) orang bisa menahan  kantuk, tetapi tidak bisa menahan tidur. Jadi, menafikan kantuk tidak  berarti otomatis menafikan tidur.

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ


"Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi."

Semesta alam ini adalah hamba dan kepunyaan Allah, serta di bawah  kekuasaan-Nya. Tidak ada yang bisa menjalankan suatu kehendak kecuali  dengan kehendak Allah.

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ


"Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya."

Memberi syafaat maksudnya menjadi perantara bagi orang lain dalam  mendatangkan manfaat atau mencegah bahaya. Inti syafaat di sisi Allah  adalah doa. Orang yang mengharapkan syafaat Nabi shallallahu 'alahi wa sallam berarti mengharapkan agar Nabi shallallahu 'alahi wa sallam mendoakannya di sisi Allah. Ada syafaat yang khusus untuk Nabi  Muhammad, seperti syafaat untuk dimulainya hisab di akhirat, dan syafaat bagi penghuni surga agar pintu surga dibukakan untuk mereka. Ada yang  tidak khusus untuk Nabi shallallahu 'alahi wa sallam, seperti  syafaat bagi orang yang berhak masuk neraka agar tidak dimasukkan ke  dalamnya, dan syafaat agar terangkat ke derajat yang lebih tinggi di  surga.

Jadi, seorang muslim bisa memberikan syafaat untuk orang tua, anak,  saudara atau sahabatnya di akhirat. Akan tetapi, syafaat hanya diberikan kepada orang yang beriman dan meninggal dalam keadaan iman. Disyaratkan dua hal untuk mendapatkannya, yaitu:

1.        Izin Allah untuk orang yang memberi syafaat.
2.        Ridha Allah untuk orang yang diberi syafaat.

Oleh karena itu, seseorang tidak boleh meminta syafaat kecuali kepada Allah. Selain berdoa, hendaknya kita mewujudkan syarat mendapat  syafaat; dengan meraih ridha Allah. Tentunya dengan menaatiNya  menjalankan perintahNya semampu kita, dan meninggalkan semua  laranganNya.

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ


"Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka."

Ini adalah dalil bahwa ilmu Allah meliputi seluruh makhluk, baik yang ada pada masa lampau, sekarang maupun yang akan datang. Allah  mengetahui apa yang telah, sedang, dan yang akan terjadi, bahkan hal  yang ditakdirkan tidak ada, bagaimana wujudnya seandainya ada. Ilmu  Allah sangat sempurna.

وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ


"Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah kecuali dengan apa yang dikehendaki-Nya."

Tidak ada yang mengetahui ilmu Allah, kecuali yang Allah ajarkan.  Demikian pula ilmu tentang dzat dan sifat-sifat Allah. Kita tidak punya  jalan untuk menetapkan suatu nama atau sifat, kecuali yang Dia kehendaki untuk ditetapkan dalam al-Quran dan al-Hadits.

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضَ


"Kursi Allah meliputi langit dan bumi."

Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu menafsirkan kursi dengan berkata:

الكُرْسيُّ مَوْضِعُ قَدَمَيْهِ


"Kursi adalah tempat kedua telapak kaki Allah." (HR. al-Hakim no. 3116, di hukumi shahih oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi)

Ahlussunnah menetapkan sifat-sifat seperti ini sebagaimana ditetapkan Allah dan Nabi shallallahu 'alahi wa sallam, sesuai dengan kegungan dan kemuliaan Allah tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk.

Ayat ini menunjukkan besarnya kursi Allah dan besarnya Allah. Dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu 'alahi wa sallam bersabda:

مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْع مَعَ الكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْض فَلاَةٍ


"Tidaklah langit yang tujuh dibanding kursi kecuali laksana lingkaran anting yang diletakkan di tanah lapang." (HR. Ibnu Hibban no.361, dihukumi shahih oleh Ibnu Hajar dan al-Albani)

وَلاَ يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا


"Dan Allah tidak terberati  pemeliharaan keduanya."

Seorang ibu, tentu merasakan betapa lelahnya mengurus rumah  sendirian. Demikian juga seorang kepala desa, camat, bupati, gubernur  atau presiden dalam mengurus wilayah yang mereka pimpin. Namun, tidak  demikian dengan Allah yang Maha Kuat. Pemeliharaan langit dan bumi  beserta isinya sangat ringan bagi-Nya. Segala sesuatu menjadi kerdil dan sederhana di depan Allah.

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ


"Dan Dia Maha Tinggi lagi Maha Besar."

Allah memiliki kedudukan yang tinggi, dan dzat-Nya berada di  ketinggian, yaitu di atas langit (di atas singgasana). Dalam sebuah  hadits, Nabi shallallahu 'alahi wa sallam bertanya kepada seorang budak perempuan: "Di mana Allah?"

Ia menjawab, "Di langit."

Nabi shallallahu 'alahi wa sallam bertanya, "Siapa saya?"

Ia menjawab, "Engkau adalah Rasulullah."

Maka, Nabi shallallahu 'alahi wa sallam berkata kepada majikannya (majikan budak perempuan tersebut -ed), "Bebaskanlah ia, karena sungguh dia beriman!" (HR. Muslim no. 537)

Jelaslah bahwa keyakinan sebagian orang bahwa Allah ada dimana-mana bertentangan dengan al-Qur'an dan al-Hadits.

Demikian pula Allah memiliki kedudukan yang agung dan dzatnya juga  agung sebagaimana ditunjukkan oleh keagungan kursiNya dalam ayat ini.

Kesimpulan:

1.        Semua ayat al-Qur'an agung. Adapun ayat yang paling agung adalah ayat kursi.
2.        Disunnahkan untuk membaca ayat ini setiap selesai shalat wajib, pada dzikir pagi dan sore, dan sebelum tidur.
3.        Penegasan kalimat tauhid.
4.        Arti al-Hayyu dan al-Qayyum yang menunjukkan seluruh nama Allah yang lain.
5.        Semua bentuk  kekurangan harus dinafikan dari Allah.
6.        Arti syafaat dan syarat memperolehnya.
7.        Ilmu Allah sangat sempurna.
8.        Kita hanya menetapkan untuk Allah nama dan sifat  yang ditetapkan  oleh Allah dan RasulNya sesuai dengan keagungan dan kemuliaanNya, tanpa  menyerupakannya dengan nama dan sifat makhluk.
9.        Arti dan keagungan kursi Allah.
10.        Ketinggian dan keagungan Allah dalam dzat dan kedudukan.
11.        Kesalahan orang yang mengatakan Allah ada di mana-mana.
12.        Penetapan banyak nama dan sifat Allah yang menunjukkan kemuliaan dan kesempurnaan-Nya.

Wallahu a'lam.

Referensi:

1.        Al-Quran dan  Terjemahnya
2.        Tafsir Ibnu Katsir
3.        Fathul Qadir, asy-Syaukani
4.        Taysirul Karimir Rahman, Abdurrahman as-Sa'di
5.        Shahih al-Bukhari
6.        Shahih Muslim
7.        Al-Mu'jam al-Kabir, ath-Thabrani
8.        al-Mustadrak, al-Hakim.
9.        Shahih Ibnu Hibban
10.        Shahih Targhib wa Tarhib, al-Albani
11.        Silsilah Ahadits Shahihah, al-Albani
12.        Fathul Majid, Abdurrahman bin Hasan
13.        Fiqhul Asma'il Husna, Abdurrazzaq al-Badr
14.        Al-Qamus al-Muhith, al-Fairuzabadi

Ibnu Abil 'Izz al-Hanafi berkata: "…tiada kehidupan untuk hati,  tidak ada kesenangan dan ketenangan baginya, kecuali dengan mengenal  Rabbnya, Sesembahan dan Penciptanya, dengan Asma', Sifat dan Af'al  (perbuatan)-Nya, dan seiring dengan itu mencintai-Nya lebih dari yang  lain, dan berusaha mendekatkan diri kepada-Nya tanpa yang lain…" (Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah)

***

Penulis: Ustadz Anas Burhanuddin, Lc.
Artikel
www.muslim.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar